Usai bergulat dengan tesis, seminar, ujian dan ribetnya urusan menjelang wisuda, kini waktunya untuk kembali ke hutan. Gotta let the steam off!
Awalnya saya hendak ke Kaliurang lagi, kalo tidak ke
Goa Jepang maka ke
Pronojiwo lagi. Tapi kemudian saya dapat info (thanks to mbah Google!) ada tempat wisata alam yang mirip dengan Kaliurang, namanya Taman Wisata Alam Kalibiru di Kabupaten Kulonprogo. Setelah googling beberapa lama, ternyata di sekitar situ juga ada sebuah waduk yang sering dijadikan tujuan wisata, Waduk Sermo.
Well, seems that I got a new place to go! Butuh beberapa saat untuk mendapatkan jalur transport ke sana, thanks lagi sama mbah Google. Setelah cukup yakin dengan rute, saya lari ke minimarket (cari air, minuman isotonik, roti, dan beberapa snack), paking jas hujan (berhubung mendung), pasang sepatu dan cabut pukul 8.36 pagi dengan sepeda motor.
Cerita selanjutnya saya tulis sesuai kronologi yang saya catat sepanjang jalan, kurang lebih sbb:
8.36 berangkat dari jalan Monjali, Jogja menuju Wates. Belok kanan di Tugu Jogja, lewat kantor Samsat dan mengikuti rambu jalan yang ada bertuliskan WATES sampai bertemu Jalan Wates.
9.10 Masih di jalan Wates, gerimis mulai turun. Setelah lewat gerbang 'Selamat Datang' memasuki Wates, saya ambil kanan mengikuti arah ke RSUD Wates. Sepuluh menit kemudian saya sudah berada di depan RSUD tersebut. Dari sini, ada penunjuk arah menuju Waduk Sermo (belok kanan). Begitu belok, di hadapan sudah ada simpang lagi dan sayangnya tak ada penunjuk arah walaupun saya sudah berusaha mencari. Akhirnya saya putuskan belok kiri, dan ternyata benar. Saya sedang beruntung nampaknya.
9.29 Sampai di Waduk Sermo. Bayar retribusi Rp. 3000 di pos yang dijaga seorang bapak tua yang kedinginan oleh hujan yang makin menderas.

Meski pandangan nyaris tertutup tirai hujan, namun saya masih bisa menikmati pemandangan waduk yang cukup besar itu. Sayangnya, tak bisa jepret satu atau dua foto. Saya jadi kepikiran 'waduh, sepertinya ini hari yang salah buat hike'. Tapi saya meneruskan perjalanan ke arah Kalibiru. Di sini ada beberapa penunjuk arah jadi tak perlu khawatir nyasar. Jalan cukup curam menanjak, namun rapi dan tak berlubang.
9.45 Sampai di dusun Munggang, Kalibiru. Saya masuk ke sebuah tempat penginapan yang pertama saya temui. Ini dia! (oya klik di tiap foto untuk memperbesar).
Saya disambut seorang ibu yang ramah yang menyodorkan kartu parkir. Saya parkir motor di situ dan berjalan mengikuti jalan menanjak di foto di atas. Semenit kemudian ada pos (rumah kayu) untuk bayar karcis masuk Rp. 2000. Sambil membayar saya bertanya arah trek yang menuju sungai (seperti yang diperlihatkan mbah Google) dan Waduk Sermo. '
Cari yang menuju Soka!' kata petugas karcis tersebut, '
tapi banyak simpangnya, biasanya nyasar kalau tak pakai pemandu' lanjutnya. Saya tersenyum kecil saja dan berlalu. Dari titik ini, hiking yang sebenarnya dimulai. Saya teruskan melangkah sambil menyapa beberapa orang yang sedang sibuk menggali dinding tanah, hingga akhirnya bertemu trek yang kelewat bagus ini...
dan Waduk Sermo pun kelihatan juga...

'waduh, koq trek nya kayak gini!' saya sempatkan ngomel dalam hati membayangkan bahwa sepanjang trek akan mulus berlantai keramik seperti itu. Tapi untunglah saya salah. Setelah beberapa menit berjalan diselingi beberapa jepretan kamera hp, saya bertemu dengan sweetheart ini.....
Inilah yang saya cari. Jalan setapak yang basah oleh gerimis, hijau dimana-mana dan terlebih lagi...saya benar-benar sendirian!
my heavenly place! Maka saya rayakan dengan narsisme....
Haha. that's the track.
Treknya masih lumayan jelas dan kebanyakan menurun. Nampaknya inilah yang menuju Soka. Dan memang benar, tak lama berjalan saya menemukan beberapa penunjuk jalan seperti yang satu ini...

Hujan masih turun dengan lembut, sepatu keds yang saya pakai mulai basah (kaus kakinya juga), tapi bawaan di dalam tas aman karena sudah saya selimuti dengan raincover sedari tadi. Hujan berhenti tepat ketika saya sampai di titik ini:

Itu Waduk Sermo. Saya istirahat sejenak sambil mengunyah roti dan snack. Saya berharap agar trek ini benar-benar menuju ke situ, karena saya tak punya info apapun. Dan yang paling penting, saya tak boleh nyasar! Jadi di setiap persimpangan trek yang tak punya penunjuk arah, saya sudah susun beberapa batu atau patahkan ranting (seperti yang dilakukan anak pramuka) sebagai penuntun saat saya kembali nanti.
10.42 Sudah 40 menit berjalan, sisa hujan tergenang di daun-daun, awan masih hitam menandakan akan segera hujan lagi, dan saya makin tenggelam ke dalam hijau ini....

Tadi saya sempat melihat seekor ayam hutan. Saya berusaha kejar untuk ambil gambarnya tapi dia menghilang entah kemana. Di satu momen, saya terpeleset di sebuah turunan yang landai. Ada banyak daun yang basah plus tanah berlumpur di bawahnya, untung masih bisa jaga keseimbangan. Kalau tidak saya sudah tentu berguling-guling di trek itu.
10.46 Hampir satu jam berjalan, saya bertemu anak sungai yang airnya menyerupai air bekas cucian beras.

Beberapa saat kemudian saya bertemu induknya yang lebih jernih, dan saya pikir sebuah tempat yang bagus untuk tersenyum di depan kamera lagi....

Di sungai ini saya berpapasan dengan empat orang petani (dua laki, dua perempuan) yang sedang memanggul sekeranjang rumput. Mereka bertanya kenapa saya sendiri? kemana saya menuju? kenapa lewat sini? dan seterusnya. Saya jawab sekenanya saja bahwa saya mau ke waduk dan saya sudah pernah lewat sini. Mereka mengangguk-angguk saja. Itu jawaban yang bagus, karena tak ada yang bakal berbuat macam-macam pada seseorang yang 'sudah pernah lewat'. Kalau saya mengaku 'baru kali ini lewat sini', wah ada banyak konskuensi yang tak terduga. Saya bukannya curiga sama bapak dan ibu petani tersebut, saya yakin mereka orang desa yang baik dan jujur.
Just in case, that's all.
11.00 Tepat satu jam berjalan, saya sampai di dusun Soka. Tanah masih basah di sekitar rumah penduduk yang terbuat dari pagar dan beratap genteng, berdampingan dengan kandang ayam, sapi dan kambing. Bau kotoran sapi dan kambing menguap, bercampur dengan aroma tanah basah dan harum rumput yang dipanggul pak tani.
An extraordinary smell!

Di titik ini, saya bertanya pada pak tani berbaju biru itu kemana arah menuju waduk. Dia bilang jalan lurus saja, lalu ikuti jalan yang mengarah ke kiri. Saya manggut-manggut, berjalan melintasi beberapa rumah penduduk sambil setengah menunduk setiap melintasi pemiliknya yang sedang lenyeh-lenyeh di beranda, bertemu simpang dan belok ke kiri. Di ujung jalan saya bertemu jalan beraspal yang menanjak, yang di sisinya ada masjid kecil bernama Masjid Jami' Baitu Al-Fath. Sekarang saya bingung karena tak ada penunjuk arah dan tak ada lagi orang yang bisa ditanyai. Beberapa pesepeda motor melintas, namun saya agak enggan menghentikan mereka untuk bertanya.
11.25 Tak mau bingung berlama-lama, saya memutuskan mengambil jalan beraspal yang menanjak. Dan begitu sampai di titiknya yang tertinggi saya nyaris bersorak melihat waduk yang membentang di depan mata. Saya buru-buru seberangi jalan di depan, turun ke jalan setapak yang menembus tanaman kakao penduduk, lalu bertemu jalan yang mengitari danau, dan hup! saya sudah berada di bibir Waduk Sermo,
the finish line!
11.45 Ada perahu wisata melintasi waduk dan beberapa orang sedang memancing di tengah gerimis. Saya duduk di samping rimbun rumput tinggi dan menyantap makan siang: roti, satu buah peer, energy snack dan air mineral. Gerimis memaksa saya mengenakan jas hujan. Andai saja hari cerah, waduk ini pasti lebih indah.
11.55 Hujan semakin menderas memaksa saya beranjak pergi. Kali ini lengkap dengan jas hujan dan sepatu yang semakin basah, saya menelusuri lagi jalan yang saya lewati tadi. Perjalanan balik ini cukup berat karena menanjak terus. Saya istirahat di beberapa titik untuk ambil nafas. Semakin dalam ke dalam hutan, hujan semakin mengecil.
12.25 Saya kehilangan arah di sebuah simpang dan nyasar selama 5 menit. Sudah agak ragu di awal tadi karena tidak familiar dengan treknya. Saya merasa belum pernah lewat situ. Dan ketika keraguan makin memuncak saya balik kanan, menemukan 'batu pramuka' yang saya susun tadi dan kembali ke trek yang benar. Pfuh, nyaris saja! Apa kata dunia kalau saya lenyap di hutan itu tanpa ada orang yang tahu. Ilmu pramuka zaman SD ternyata cukup berguna, haha, meski saat SMP dan SMA saya tak ikut pramuka lagi, malah ngikut PMR.
12.35 Nyaris mencapai Kalibiru lagi, menemukan kembali beberapa batu dan ranting yang saya patahkan tadi. Ah,
thanks a lot, stones and plants! Saya sempatkan duduk sejenak di rerumputan yang basah mumpung hujan sudah berhenti. Lepas jas hujan, cicipi beberapa potong snack yang tersisa dan menikmati semilir angin.
Saya benar-benar sendirian. Tak ada seorang pun. Nampaknya tak ada orang yang sudi hiking ke tengah hutan di hari hujan macam ini. Kaus kaki saya sudah basah total, harus diganti. Untungnya saya bawa ekstra satu pasang.
12.37 Gotta keep moving. Sebatang tubuh capek yang berlama-lama duduk di tengah kehijauan dan semilir angin yang melenakan akan segera merasa ngantuk. Awan gelap masih menggantung.
Patut dicatat, ketika hiking di hutan seperti ini hanya satu ketakutan saya yang paling besar: ULAR. Untungnya belum pernah bertemu seekorpun. Semoga tidak akan pernah sama sekali.
Saya sampai di Kalibiru lagi sekitar pukul 13.00
disambut olokan renyah ibu-ibu yang mengangkut tanah. Mas, kenapa sendiri mas? koq tidak ngajak teman? Bawa cewek yang cantik, massss...... Hehe dasar. Sambil berjalan turun saya jepret sebuah joglo yang rapi dan bersih ini.

Jadi berdasarkan perjalanan saya, butuh sekitar
2 jam pp Jogja - Waduk Sermo/Kalibiru (dengan sepeda motor), dan
2,5 jam untuk menyusuri trek
Kalibiru-Soka-Waduk Sermo bolak-balik. Semoga bermanfaat buat anda yang suka hike dan hendak mengunjungi kawasan ini.