Para penumpang bersiap naik ke salah satu kapal penumpang milik Pelni.
-sent from my phone
FCYD
ketika uap kopi mengepul
9 January 2013
19 February 2012
Pelabuhan Belawan

Beberapa peti kemas dimuat ke atas kapal di depan terminal penumpang Pelabuhan Belawan di Medan, Sumatra Utara. Mungkin karena satu dan lain hal, mereka melakukannya di dermaga penumpang yang sebenarnya bukan tempat untuk bongkar-muat peti kemas.
Foto ini saya ambil di hari pertama saya kembali ngantor lagi di Belawan setelah hampir tiga tahun menjalani tugas belajar.
7 February 2012
Tempat cukur
Setiap lalu lalang di Jalan Monjali Jogja, tepatnya di persimpangan menuju Jalan Teknika Utara UGM, papan nama tempat cukur itu selalu mengusik saya. Kalau melihatnya saya tak pernah gagal tersenyum.
Tulisannya cukup besar, jadi bisa dibaca dari kejauhan.
TEMPAT CUKUR PRIA BERGARANSI
...apakah anda juga tergelitik membacanya? sayang saya tak punya fotonya.
Saat pertama kali melihatnya saya langsung kepikiran, pria macam apakah gerangan yang bergaransi itu? hebat betul ada pria bergaransi. Tapi tentu saja bukan itu maksudnya. Tempat cukurnya yang bergaransi, bukan prianya. hehe.
Saya tidak tahu pasti garansi seperti apa yang ditawarkan tempat cukur tersebut, karena saya belum pernah mencobanya. Saya agak takut masuk ke situ. Maklum saya bukan pria bergaransi, xixi.
Tulisannya cukup besar, jadi bisa dibaca dari kejauhan.
TEMPAT CUKUR PRIA BERGARANSI
...apakah anda juga tergelitik membacanya? sayang saya tak punya fotonya.
Saat pertama kali melihatnya saya langsung kepikiran, pria macam apakah gerangan yang bergaransi itu? hebat betul ada pria bergaransi. Tapi tentu saja bukan itu maksudnya. Tempat cukurnya yang bergaransi, bukan prianya. hehe.
Saya tidak tahu pasti garansi seperti apa yang ditawarkan tempat cukur tersebut, karena saya belum pernah mencobanya. Saya agak takut masuk ke situ. Maklum saya bukan pria bergaransi, xixi.
28 January 2012
Being alone together
Penampilan memang bisa menipu. Saya baru saja melihat seorang pria yang mengenakan jins, kaca mata hitam, kaos oblong dan sepatu lapangan, memainkan musik yang pilu di piano ruang belakang kafe kopi mungil ini.
Ada beberapa melodi yang saya kenal, banyak juga yang tidak. Tapi semuanya terdengar sedih. Agak mengejutkan untuk seorang yang menurut saya memiliki penampilan anak pencinta alam.
Melodi yang ia mainkan seakan jadi background music yang pas untuk suasana saat ini. Ada sembilan orang, termasuk saya, yang duduk di meja-meja terpisah. Tiap orang sendirian (kecuali dua pasang yang duduk di luar) ditemani gelas kopinya masing-masing.
Ada yang hanya melamun, tapi ada juga yang sibuk mengetik tugas kuliah. Ada yang tak henti-henti mengepulkan asap rokok, sementara yang seorang lagi beberapa kali bolak-balik ke toilet. Semuanya terjadi di sekeliling orang-orang yang tak anda kenal sama sekali.
Inilah yang namanya sendiri berjamaah, alias being alone together. Orang-orang yang tak mengenal satu sama lain, hanya disatukan oleh hobi ngopi di suasana tenang kafe ini di hari Sabtu.
-At Peacock Coffee, Jogja
-At Peacock Coffee, Jogja
26 January 2012
Wisuda
Saya tak begitu suka seremoni, apalagi yang mesti baca sumpah, panca inilah, panca itulah dan sejenisnya. Hal-hal seperti itu biasanya mengandung sedikit arti dan kebanyakannya adalah omong kosong. Orang yang membacanya pun belum tentu paham, alih-alih melaksanakannya. Lalu di tengah-tengah pidato sambutan yang bersemangat tentang a world class university, listrik justru mati.
Ha! Big time, nonsense.
Tapi dalam hidup kadang anda harus melakukan hal-hal yang tak anda suka. Beberapa foto dengan toga juga tak ada salahnya untuk diberikan pada keluarga yang sudah terkhusus memintanya beberapa hari lalu. Sisanya, buat menghiasi dinding kamar tentunya, he-he.

(tiga diantara beberapa foto candid yang sempat saya ambil)
Jadi saya di sana kemarin pagi, di acara wisuda pascasarjana UGM. Menemukan diri duduk di kursi itu… satu diantara ribuan wisudawan lainnya membuat saya tak merasa spesial, haha.
Adapun selain mati lampu, ada banyak hal lain yang saya protes dalam hati sepanjang acara berlangsung. Namun akhirnya thanks kepada alunan gending gamelan saat pembukaan dan nyanyian gaudeamus igitur oleh paduan suara mahasiswa. Kalau yang pertama memberi suasana wisuda yang khas Jawa, yang kedua membuatnya khidmat. Dan saya tak punya alasan lagi buat menggerutu.
Ha! Big time, nonsense.
Tapi dalam hidup kadang anda harus melakukan hal-hal yang tak anda suka. Beberapa foto dengan toga juga tak ada salahnya untuk diberikan pada keluarga yang sudah terkhusus memintanya beberapa hari lalu. Sisanya, buat menghiasi dinding kamar tentunya, he-he.

(tiga diantara beberapa foto candid yang sempat saya ambil)
Jadi saya di sana kemarin pagi, di acara wisuda pascasarjana UGM. Menemukan diri duduk di kursi itu… satu diantara ribuan wisudawan lainnya membuat saya tak merasa spesial, haha.
Adapun selain mati lampu, ada banyak hal lain yang saya protes dalam hati sepanjang acara berlangsung. Namun akhirnya thanks kepada alunan gending gamelan saat pembukaan dan nyanyian gaudeamus igitur oleh paduan suara mahasiswa. Kalau yang pertama memberi suasana wisuda yang khas Jawa, yang kedua membuatnya khidmat. Dan saya tak punya alasan lagi buat menggerutu.
10 January 2012
Indonesia Mengajar dan Naruto
Saya sudah kepincut dengan Indonesia Mengajar (IM) sejak awal program itu diumumkan. Di urat-urat nadi ini, saya merasakan darah bapak saya—yang seorang guru—menggelegak. Namun begitu melihat persyaratan usianya, saya tiba-tiba merasa jadi tua.
Jadi beberapa hari lalu ketika di sebuah mall saya melihat buku berjudul Indonesia Mengajar: Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri, saya tak pikir panjang lagi untuk membelinya. Mungkin dengan membacanya bisa sedikit mengobati kekecewaan. Selain itu saya punya dua alasan penting.
Pertama, saya adalah produk Sekolah Dasar (SD) yang berada di pelosok negeri. Saya menghabiskan waktu SD saya di 4 sekolah berbeda. Dua diantaranya berada di pelosok pulau Lombok. Satu diantara yang dua itu pernah punya gedung beratap seng, berdinding papan dan berlantai tanah. Jika hujan turun, rinainya menitik dari seng yang bocor dan merubah lantai tanah itu menjadi lumpur basah yang lengket di kaki kami. Sekolah yang satu lagi berada di kaki Gunung Rinjani, di sebuah kampung yang dipenuhi anjing liar. Selain anjing liar, penduduk setempat juga memelihara anjing untuk membantu mereka berburu rusa secara ilegal. Ingat, rusa itu sebenarnya dilindungi di wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani. Nah, anjing-anjing liar ini saban malam memasuki sekolah kami yang tak punya pagar untuk buang hajat di depan setiap pintu kelas. Maka tiadalah setiap pagi berlalu tanpa kami yang membersihkan kotoran anjing.
Jadi saya ingin membaca cerita, kesan dan pengalaman unik para guru muda—Pengajar Muda (PM), begitu mereka menyebutnya—yang dikirim oleh IM ini. Saya seolah ingin melihat diri saya di masa lalu dari perspektif mereka. Saya benar-benar penasaran.
Alasan kedua, IM itu heroik. Seheroik kebanyakan film Amerika. Anak-anak muda, lulusan terbaik universitas-universitas bergengsi dalam negeri merelakan diri mereka dikirim ke pelosok negeri untuk menjadi guru selama setahun. Disana mereka berdiri di depan kelas, memberi inspirasi, memompa semangat anak-anak kampung yang bahkan tak berani untuk bermimpi. Mereka seperti sang penyelamat, yang bisa mengangkat anak-anak itu dari gelapnya dunia tanpa ilmu pengetahuan. Bukankah itu heroik, kawan?
Kebetulan pula dua hari terakhir saya sedang tenggelam sedalam-dalamnya ke dalam anime Naruto. Wisuda masih sebulan lagi dan saya punya banyak waktu luang untuk dihambur-hamburkan. Jujur, saya tak bisa berhenti mengikuti kisahnya. Lalu apa hubungannya dengan Indonesia Mengajar?
Naruto adalah tipikal pahlawan. Lugu, polos, bodoh, pembuat onar yang keras kepala dan pantang menyerah. Sementara Sasuke, sang antagonis utama, kebalikannya; cool, ganteng, disukai banyak wanita, jenius namun penyendiri, penuh kebencian dan dendam. Di sisi lain Sakura bisa dibilang hanya untuk meramaikan suasana dengan polesan kisah cinta remaja. Naruto mencintai Sakura, sementara Sakura menyukai Sasuke, meski Sasuke tak peduli sama sekali. Nun jauh di sana, ada Hinata yang diam-diam mencintai Naruto. Lingkaran cinta yang tak pernah berbalas. Persis seperti di dunia nyata ini yang penuh dengan orang-orang yang kita inginkan namun tak menginginkan kita. Sementara itu, orang yang menginginkan kita tapi tak kita inginkan juga selalu ada di sana…. seperti patung selamat datang, kata Andrea Hirata; selalu melambai-lambai meski tak pernah ada yang menghiraukannya.
Para PM tadi adalah pahlawan sebenarnya. Seperti Naruto yang berjuang keras menyelamatkan Sasuke dari panasnya api balas dendam, mereka berpartisipasi mengangkat hidup anak-anak di desa-desa terpencil, memberi mereka asa bahwa ada dunia di luar sana di luar kampung mereka yang menghilang dari peta.
Menjadi pengajar adalah membentuk manusia. Mengajar dan menginspirasi mereka dengan hal-hal dasar yang bisa menginspirasi seumur hidup mereka. Seperti halnya Kakashi, Iruka dan Hokage yang menginspirasi anak-anak desa Konoha, yang dengan api inspirasi itu mereka menjadi kuat dan terus mengejar mimpinya. Terlebih lagi, anak-anak di pelosok negeri ini adalah kanvas putih polos tak bernoda. Siapa saja bisa memberinya warna. Kita tak ingin anak-anak itu diberi warna yang salah oleh orang yang salah. Seperti halnya Sasuke yang masih putih, yang kemudian diwarnai oleh merahnya dendam kesumat oleh Toby yang menjadikannya senjata berjalan.
Namun bukan salah pengajar jika suatu saat di masa depan anak-anak itu tumbuh menjadi manusia yang berbeda seperti Sasuke. Para PM menghadapi resiko semacam itu juga. Ketika anak-anak desa yang lugu sudah mampu mengangkat diri dan keluarganya di masa depan, mereka mungkin akan hidup di kota, menjelajah dunia dan menemukan budaya berbeda.
Saat itulah orang-orang seperti Naruto dan Sasuke akan tercipta. Ada yang menjadi baik dan menginspirasi, namun akan ada juga yang menjadi salah arah karena tak mampu mengendalikan diri menghadapi dunia dan budaya yang berbeda. Apakah saya mengkhayal gara-gara kebanyakan menonton Naruto?
Mungkin ini saatnya saya berhenti mengoceh dan mulai membaca bukunya, he he.
Jadi beberapa hari lalu ketika di sebuah mall saya melihat buku berjudul Indonesia Mengajar: Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri, saya tak pikir panjang lagi untuk membelinya. Mungkin dengan membacanya bisa sedikit mengobati kekecewaan. Selain itu saya punya dua alasan penting.
![]() |
| buku Indonesia Mengajar |
Jadi saya ingin membaca cerita, kesan dan pengalaman unik para guru muda—Pengajar Muda (PM), begitu mereka menyebutnya—yang dikirim oleh IM ini. Saya seolah ingin melihat diri saya di masa lalu dari perspektif mereka. Saya benar-benar penasaran.
Alasan kedua, IM itu heroik. Seheroik kebanyakan film Amerika. Anak-anak muda, lulusan terbaik universitas-universitas bergengsi dalam negeri merelakan diri mereka dikirim ke pelosok negeri untuk menjadi guru selama setahun. Disana mereka berdiri di depan kelas, memberi inspirasi, memompa semangat anak-anak kampung yang bahkan tak berani untuk bermimpi. Mereka seperti sang penyelamat, yang bisa mengangkat anak-anak itu dari gelapnya dunia tanpa ilmu pengetahuan. Bukankah itu heroik, kawan?
Kebetulan pula dua hari terakhir saya sedang tenggelam sedalam-dalamnya ke dalam anime Naruto. Wisuda masih sebulan lagi dan saya punya banyak waktu luang untuk dihambur-hamburkan. Jujur, saya tak bisa berhenti mengikuti kisahnya. Lalu apa hubungannya dengan Indonesia Mengajar?
Naruto adalah tipikal pahlawan. Lugu, polos, bodoh, pembuat onar yang keras kepala dan pantang menyerah. Sementara Sasuke, sang antagonis utama, kebalikannya; cool, ganteng, disukai banyak wanita, jenius namun penyendiri, penuh kebencian dan dendam. Di sisi lain Sakura bisa dibilang hanya untuk meramaikan suasana dengan polesan kisah cinta remaja. Naruto mencintai Sakura, sementara Sakura menyukai Sasuke, meski Sasuke tak peduli sama sekali. Nun jauh di sana, ada Hinata yang diam-diam mencintai Naruto. Lingkaran cinta yang tak pernah berbalas. Persis seperti di dunia nyata ini yang penuh dengan orang-orang yang kita inginkan namun tak menginginkan kita. Sementara itu, orang yang menginginkan kita tapi tak kita inginkan juga selalu ada di sana…. seperti patung selamat datang, kata Andrea Hirata; selalu melambai-lambai meski tak pernah ada yang menghiraukannya.
Para PM tadi adalah pahlawan sebenarnya. Seperti Naruto yang berjuang keras menyelamatkan Sasuke dari panasnya api balas dendam, mereka berpartisipasi mengangkat hidup anak-anak di desa-desa terpencil, memberi mereka asa bahwa ada dunia di luar sana di luar kampung mereka yang menghilang dari peta.
Menjadi pengajar adalah membentuk manusia. Mengajar dan menginspirasi mereka dengan hal-hal dasar yang bisa menginspirasi seumur hidup mereka. Seperti halnya Kakashi, Iruka dan Hokage yang menginspirasi anak-anak desa Konoha, yang dengan api inspirasi itu mereka menjadi kuat dan terus mengejar mimpinya. Terlebih lagi, anak-anak di pelosok negeri ini adalah kanvas putih polos tak bernoda. Siapa saja bisa memberinya warna. Kita tak ingin anak-anak itu diberi warna yang salah oleh orang yang salah. Seperti halnya Sasuke yang masih putih, yang kemudian diwarnai oleh merahnya dendam kesumat oleh Toby yang menjadikannya senjata berjalan.
Namun bukan salah pengajar jika suatu saat di masa depan anak-anak itu tumbuh menjadi manusia yang berbeda seperti Sasuke. Para PM menghadapi resiko semacam itu juga. Ketika anak-anak desa yang lugu sudah mampu mengangkat diri dan keluarganya di masa depan, mereka mungkin akan hidup di kota, menjelajah dunia dan menemukan budaya berbeda.
Saat itulah orang-orang seperti Naruto dan Sasuke akan tercipta. Ada yang menjadi baik dan menginspirasi, namun akan ada juga yang menjadi salah arah karena tak mampu mengendalikan diri menghadapi dunia dan budaya yang berbeda. Apakah saya mengkhayal gara-gara kebanyakan menonton Naruto?
Mungkin ini saatnya saya berhenti mengoceh dan mulai membaca bukunya, he he.
17 December 2011
Who is my person of the year?
![]() |
| source: TIME |
Kebiasaan majalah bergengsi ini sepertinya bagus juga untuk ditiru di level diri pribadi. Saya jadi kepikiran untuk mengapresiasi orang/grup/institusi yang paling berpengaruh dalam hidup saya di tahun 2011 ini.
Mengapresiasinya pun ya cukup dengan cara yang sederhana saja, yakni ditulis di blog ini, hehe. Kalau itu individu mungkin ditambah dengan dikirimi kado atau sejenisnya.
Siapa ya kira-kira? hmmmm.... saatnya berpikir! hehe.
Subscribe to:
Posts (Atom)

